Industry telekomuniasi global sekarang ini memang sedang menghadapi dilemma yang tak terbayangkan sampai dengan decade kemarin, operator seluler bukan lah lagi perusahaan yang penuh dengan gebyar, labanya tinggi.

Industry telko sendiri yang sampai sekarang merajai yang bahkan berkembang saat pandemic menebang setiap jenis bisnis sea industry harus mulai berberes jika tak mau mati 2 – 3 tahun berikutnya.

Telko harus segera berinovasi dan merambah ke bisnis yang baru dimana selama ini masih dipandang sebelah mata oleh para operator Telko dikarenakan potensi pertumbuhannya yang sangat tinggi.

Tariff layanan data yang ada di Indonesia merupakan yang terendah kedua seusdah India serta operator yang tak bisa leha – leha dengan cara mengandalkan infrastruktur jaringan serta teknologi yang sudah mereka kuasai karena teknologi sekarang ini sudah bergerak maju dengan sangat cepat dimana durasinya semakin lama semakin pendek.

Sampai sekarang pun, investasi operator untuk jaringan serta layanan generasi ketiga atau 3G masih belum impas saat 4G telah muncul yang terus bergerak menjadi 4G LTE.

Sekarang juga sudah ada 5G yang masuk. Namun, bukan berarti kelanjutan dari 4G sama halnya seperti 2G dan 3G.

Hal ini dikarenakan teknologiya berbeda, kebutuhan akan spectrum frekuensinya juaga berbeda dan bentuk layanannya beda.

Jadi, 5G lebih cocok dipakai untuk bisnis baik itu industry, manufaktur, kota pintar, rumah pintar, kesehatan, pertanian, transportasi, dan lain – lainnya.

Inilah kenapa M&A atau merger dan akuisis itu penting. Karena jika dibiarkan maka iperator operator kecil yang EBITDA nya di bawah 8% tak akan dapat bertahan dalam 3 tahun berikutnya.

Beberapa operator telko yang ada di India yang kolaps bisa menjadi pembelajaran. Dengan adanya M&A ini, maka kekuatan akan dikumpulkan agar bisa memperkuat daya beli teknologi yang pertumbuhanya dinikmati oleh para vendor teknologi yang selalu memasang harga tinggi untuk teknologi baru.

Lalu, apakah operator tak bertahan saja hanya dengan teknologi yang telah dikuasai jadi minim capex dan hanya fokus untuk nambah pelanggan saja?